blog belajar jaringan

Kamis, 18 September 2008

ROUTING TABLE

Semua router senantiasa akan merawat apa yang disebut routing table, yang memungkikan mereka dapat memutuskan bagaimana paket-paket diforward, ke mana paket akan dikirim dan melalui interface mana mereka harus pergi. Routing table pada router akan senantiasa melakukan update dengan melakukan perintah debug yaitu memberi perintah pada prosesor untuk melakukan update, tetapi disarankan untuk jangan terlalu sering melakukan update karena ini akan membuat prosesor menjadi lelah dan akhirnya down....


Semua router senantiasa akan merawat apa yang disebut routing table, yang memungkikan mereka dapat memutuskan bagaimana paket-paket diforward, ke mana paket akan dikirim dan melalui interface mana mereka harus pergi. Routing table pada router akan senantiasa melakukan update dengan melakukan perintah debug yaitu memberi perintah pada prosesor untuk melakukan update, tetapi disarankan untuk jangan terlalu sering melakukan update karena ini akan membuat prosesor menjadi lelah dan akhirnya down.


MEKANISME ROUTING

Routing berlangsung di layer 3 (network layer). Untuk dapat membangun ryte paket-paket, router di antaranya harus mengetahui informasi-informasi seperti : anress tujuan, router yang ada di dekatnya, rute yang memungkinkan ke network remote dan route terbaik untuk melewatinya.

Router membangun empat mekanise dasar untuk membangun dan merawat routing table, yaitu :

1.direct connection
yaitu bentuk koneksi segmen jaringan di mana router dikoneksikan secara langsung,
dan ia akan secara otomatis ditambahkan ke route table.

2.static routing (routing manual)
di sini network administrator menginstruksikan router-router untuk menggunakan rute
yang diberikan guna menuju address tujuan.

3. default routing
rute diberikan secara manual, tetapi ditujukan untuk gateway penghubung yang spesifik. Metode ini sangat cocok digunakan untuk border router dan router-router yang berperan sebagai penghubung koneksi tunggal antar jaringan LAN sederhana dengan network besar seperti Internet. Router-router yang bergantung pada gateway default tunggal biasanya tidak memerlukan routing protocol.

4. dynamic routing
routing ini bekerja secara dinamis. Ketika suatu organisasi mempunyai network yang kompleks, sementara sangat banyak jika harus melaukan entri secara manual, maka dinamik routing sangat cocok untuk diterapkan. Dynamic routing secara otomatis akan melakukan adaptasi atas perubahan-perubahan yang terjadi pada network. Di sini router akan mencari sendiri path optimal untik mencapai address-address tujuan.


ADMIISTRATIVE DISTANCE

Nilai ini digunakan untuk menghitung kelayakan informasi routing yang diterima sebuah router dari router-router lainnya. Administrative Distance merupakan nomor integer dari 0-255, di mana 0 adalah yang paling diterima dan 255 berarti tidaka ada traffic yang bias dilepas melalui rute ini.

Default Administrative Distance

Route Source Default distance
Connected interface 0
Static route 1
EIGRP 90
IGRP 100
OSPF 110
RIP 120
Extended EIGRP 170
Unknown 255


STATIC ROUTING

Dibangun menggunakan table routing pra-konfigurasi, dan nilainya berlaku untuk masa waktu tidak tertentu, sampai administrator merubahnya sendiri. Artinya bahwa user-user harus merubah secara manual table routing pada satu atau beberapa mesin guna merefleksi perubahan topologi jaringan dan addressing. Biasanya, paling sedikit terdapat satu entri dalam interface jaringan.

Keuntungan menggunaan static routing :

1) Tidak ada overhead pada CPU router

2) Tidak ada keterlibatan bandwidth diantara router

3) Jaminan security, di mana administrator hanya membuka routing untuk network-network spesifik saja

Kerugian menggunakan static routing :

1) Untuk membangun static routing administrator dituntut untuk benar-benar menguasai konsep internetwork, bagaimana setiap router dikonfigurasikan dengan benar.

2) Seandainya dilakukan penambahan network baru, administrator harus menambahkan route baru untuk semua router. Ini membutuhkan waktu yang lama untuk network yang kompleks.

3) Static routing tidak diterapkan untuk network yang besar karena keterbatasan jumlah hop yang disupport, dan yang pasti akan memerlukan tenaga dan waktu lang besar pula.


MENGKONFIGURASI STATIC ROUTING

Membangun static routing pada router tidak begitu sulit, masuk ke global configuration mode dan jalankan konfigurasi.

Router (config)#ip route

Atau

Router (config)#ip route

Keterangan :

Network destination id : alamat jaringan yang dituju
Subnet mask : subnet mask jaringan yang dituju
Default gateway : ip address gateway, IP address router yang
berhubungan langsung
Ip route : perintah membuat routing static
Ad : administrative distance, untuk static adalah 1
Permanent : menjaga entri routing table. Biasanya jika
interface dilakukan shutdown atau router tidak dapat berkomunikasi lagi dengan hop router selanjutnya, rute yang ada secara otomatisakan dihapus dari routing table. Maka dengan opsi permanent kondisi ini bias dicegah.

Contoh :

Dimisalkan router terkoneksi ke network 192.18.10.0

Konfigurasi pada router

Agar router 01 dapat melakukan route ke semua network maka network-network di bawah ini harus dikonfigurasikan dalam routing table :

 192.18.20.0
 192.18.30.0
 192.18.40.0
 192.18.50.0

Static route akan mengirim paket ke address 192.18.10.5, di mana merupakan hop router berikutnya.

Maka konfigurasinya adalah :

Router 01(config)#ip route 192.18.20.0 255.255.255.0 192.18.10.5
Router 01(config)#ip route 192.18.30.0 255.255.255.0 192.18.10.5
Router 01(config)#ip route 192.18.40.0 255.255.255.0 192.18.10.5
Router 01(config)#ip route 192.18.50.0 255.255.255.0 192.18.10.5

Opsi permanent dapat juga disisipkan untuk membuat rute tetap dijaga dalam routing table.

Untuk mengecek hasil konfigurasi dengan perintah show ip route

Router01#sh ip route
Codes : C - connected, S - static, I - IGRP, R - RIP, M - mobile, B - BGP
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2, E - EGP
i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2, ia - IS-IS inter area
* - candidate default, U - per-user static route, o - ODR
P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set
192.18.0.0/24 is subnetted, 5 subnet

S 192.18.50.0 (1/0) via 192.18.10.5
S 192.18.40.0 (1/0) via 192.18.10.5
S 192.18.30.0 (1/0) via 192.18.10.5
S 192.18.20.0 (1/0) via 192.18.10.5
C 192.18.10.0 is directly connected, fast Ethernet 0/0

Opsi di atas menunjukkan bahwa network bersangkutan telah ditambahkan menggunalan static route. Opsi (1/0) adalah nilai administrative distance.


DYNAMIC ROUTING

Menggunakan protocol informasi special guna secara otomatis meg-update routing table dengan rute-rute yang sudah diketahui per router. Protocol ini dikelompokkan berdasarkan apakah mereka Interior Gateway Protokol (IGP) atau Exterior Gateway Protokol (EGP).

IGP digunakan untuk mendistribusikan informasi routing dalam sebuah Autonomous System (AS) yang merupakan satu set router-router dalam satu keluarga administrasi domain

EGP digunakan oleh inter-AS routing, dengan demikian masing-masing AS dapat saling mengenal satu sama lain.

Konfigurasi Dynamic Routing (RIP)

Untuk mengkonfigurasi RIP menggunakan perintah router rip dan network. Perintah router rip berperen untuk mengaktifkan perintah router rip pada router, sedang network untuk mengatakan pada protocol routing network mana yang akan dimasukkan dalam jaringan.

Contoh :

Konfigurasi router 01:

Router 01(config)#router rip
Router 01(config-router)#network 192.18.0.0

Konfigurasi router 02 :

Router 02(config)#router rip
Router 02(config-router)#network 192.18.0.0

Konfigurasi router 03 :

Router 03(config)#router rip
Router 03(config-router)#network 192.168.0.0

Konfigurasi router 04 :

Router 04(config)#router rip
Router 04(config-router)#network 192.18.0.0

Konfigurasi router 05 :

Router 05(config)#router rip
Router 05(config-router)#network 192.168.0.0


Jika konfigurasi telah selesai, maka akan diperoleh informasi sebagai berikut :

Router01#sh ip route
Codes : C - connected, S - static, I - IGRP, R - RIP, M - mobile, B - BGP
D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2, E - EGP
i - IS-IS, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2, ia - IS-IS inter area
* - candidate default, U - per-user static route, o - ODR
P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set
192.18.0.0/24 is subnetted, 6 subnets

R 192.18.60.0 (120/3) via 192.18.10.5. , , FastEthernet 0/0
R 192.18.50.0 (120/3) via 192.18.10.5. , , FastEthernet 0/0
R 192.18.40.0 (120/2) via 192.18.10.5. , , FastEthernet 0/0
R 192.18.30.0 (120/2) via 192.18.10.5. , , FastEthernet 0/0
R 192.18.20.0 (120/1) via 192.18.10.5. , , FastEthernet 0/0
C 192.18.10.0 is directly connected, fast Ethernet 0/0

Tidak ada komentar: